6 Langkah Membuat Ibu Bahagia Sepanjang Hari

Spread the love

Sering banget dong kita denger kata-kata bijak kek gini, “anak-anak tidak butuh ibu yang sempurna, tapi mereka butuh ibu yang bahagia”. Kalimat itu terdengar simpel dan kok jadi seperti menurunkan standar kesulitan yang harus kita hadapi ketika menjalani peran sebagai ibu, ya!

Tapi, nyatanya tidak semudah itu menjadi ‘ibu yang bahagia’. Tanpa mengesampingkan standar kebahagiaan setiap orang ini ya. Kan katanya bahagia itu relatif.

Kalau dari pagi udah gedubrakan mikirin banyak hal. Jiwa kayak lelah gitu nggak sih, Bu? Wkwkwk. Eits, itu sih pendapat berdasarkan apa yang selama ini saya alami. Jadi, mengejar standar kebahagiaan untuk diri sendiri itu kok sulit rasanya. Atau jangan-jangan kita belum menentukan standar kebahagiaan versi diri sendiri?

Ikuti cerita saya menemukan secercah harapan menemukan jati diri menjadi ibu bahagia, yuk! Ini hasil uji coba dari banyak insight yang saya dapat dari berbagai sumber.

Ketika ibu bahagia, pengennya senyum terus! 🙂

Bangun di pagi hari, itu koentji!

Waktu kecil suka heran kenapa Mak saya bangun pagi bener. Kita mau berangkat sekolah, sarapan sudah siap disantap, rumah sudah rapi, dan paling beliau tinggal sibuk jemur baju di luar. Ternyata ada jungkir balik beliau yang selama ini tak terlihat.

Setelah menjadi ibu, saya baru tahu jika BANGUN PAGI adalah koentji. Kalau pengen jadi ibu bahagia, kuy bangun pagi! Biar nggak gradak-gruduk ngerjain tugas-tugas yang menanti. Yang biasanya terjadi kalau kita kesiangan dikit aja, ada yang kelewat, terburu-buru dikerjain. Alhasil hati ini jadi BETE. Fix nih, resep pertama yang bisa bikin ibu bahagia adalah bangun pagi.

Stop screen time in the morning!

Aslik, ini candu yang bikin semua keteteran! So, stop it!

Kadang saya cuma suka iseng melihat insight postingan semalam. Eh, kok lama-lama pengen lihat yang lain juga. Dan ini tuh nggak cukup kalau cuma lihat satu aplikasi. Kok ya semua pengen dicek, udah kayak pejabat penting yang pasti dapat notifikasi gitu, lho! Sebenarnya itu hanya nafsu belaka saja. Tapi, kenapa susah sekali ngeremnya.

Saya pernah dengar dari seorang Instagram Expert, bahwa beliau pun membatasi waktu untuk berselancar di media sosial. Ada batasan yang memang harus kita kendalikan sendiri, sih! Dan, screen time bermotif mengecek notifikasi ini sungguh candu yang harus kita batasi. Karena endingnya memang bikin keteteran kerjaan.

Dan bagi saya yang seorang ibu rumah tangga di rumah, ‘meleng’ dikit semua ambyar. Kalau ambyar itu bikin kesel aja gitu. Sudah jelaskan kan, kalau kesel itu bukan bagian dari perasaan bahagia. Bahkan irisannya saja bukan.

Tips menjadi ibu bahagia

Bikin jadwal kegiatan

Tips ini saya dapatkan dari @makrahel. Seorang influencer yang terkenal dengan video lucunya tentang suka duka menjadi ibu rumah tangga. Saya kagum dengan beliau yang notabene istri orang kaya, punya rumah gede tapi ngurusin rumahnya sendirian tanpa ART.

Salah satu tips yang pernah beliau bagikan adalah selalu menuliskan jadwal harian yang membantunya untuk menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga. Bener juga sih, kalau dulu hidup saya terjadwal sama kantor. Ketika resign, ya memang harus bikin jadwal sendiri supaya nggak ada yang ketinggalan.

Kalau Mak Rahel biasanya bikin pakai sticky note, ternyata saya nggak serajin itu. Awal-awal saja saya on fire. Selanjutnya mlempem! Jadi, akhirnya saya buat satu jadwal rutin harian dan jadwal deadline khusus untuk satu minggu. Ini yang cukup berhasil sampai sekarang.

Dan, jujur ketika kita punya jadwal harian yang terlihat oleh mata tuh, membuat kita menjadi lebih aware pada diri sendiri. Setelah A harus B, selanjutnya ini yang belum. Hidup menjadi lebih tertata. Kalau sudah begitu, rasanya lebih tenang menghadapi hari. It’s mean “aku bahagia jadi ibu hari ini!”

Luangkan waktu untuk me time di pagi hari

Setelah menjadi seorang ibu, rasanya kok pantas ya kalau saya bilang “Hah, apa itu me time?!”. Bagaimana tidak? Ketika kerjaan kantor menunggu, anak dan suami juga ikut menunggu. Belum lagi urusan domestik yang ‘nggak kelar-kelar’.

Eh, tapi belakangan ini saya mencoba mengubah cara pandang tentang me time. Sesungguhnya apa itu me time? Waktu untuk diri sendiri sebagai seorang individu yang bikin happy, kan? Dan ternyata ‘waktu’ tersebut tidak harus terlihat muluk-muluk dengan kegiatan ngopi cantik atau nongki bareng temen.

Ternyata saya sudah cukup merasa happy ketika menulis sambil menemani anak-anak bermain. Atau ketika pagi-pagi mereka belum bangun, saya bisa ngopi sambil baca buku. Beberapa teman bahkan bisa berbahagia dengan memasak atau baking.

Apa pun itu, pokoknya selipin kegiatan yang bikin ibu bahagia di pagi hari meski cuma 5 menit! Hal ini bisa jadi mood booster untuk mengawali hari. Cobain, deh Bu!

Paling penting, deketin diri sama Yang Maha Kuasa!

Bukan bermaksud mau ngasih ceramah, ya! Tapi, jujurly ketika saya mulai mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Hidup kok rasanya ada kekosongan yang terisi. Atau ini efek usia yang sudah tidak muda lagi, ya? Wkwkwk.

It’s work untuk saya, dan mungkin juga bisa menunjukkan reaksi yang sama untuk kalian. Saya mulai memasukkan agenda sholat sunah pada jadwal harian. Yang awalnya ini jarang atau nggak pernah sama sekali. Paling getol sholat sunah ketika mau ujian kelulusan SMA. Setelah itu lupa dengan alibi kerjaan. Alhamdulillah makin kesini makin tercerahkan.

Efeknya kontrol diri menjadi lebih kuat. Yang artinya, frekuensi marah-marah mulai berkurang. Seperti ada benteng yang bilang, “Sabar, sabar, sabar, tahaaan!” 😊

Woles aja, bu!

Tips terakhir yang juga tidak kalah penting adalah WOLES aja bu! Kita boleh punya jadwal, kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin. Tapi, kalau dari semua yang telah kita upayakan belum membuahkan hasil atau tidak sesuai ekspektasi ya santuy aja. Mungkin hal itu ada di luar kendali kita.

Yuk, bawa happy aja! Kalau sugesti kita menyenangkan, stimulus yang bikin bete bisa diterima dengan lapang dada. Ini bikin kita nggak dikit-dikit pengen marah. Yang artinya, perjalanan panjang menjadi ibu ada di zona yang membahagiakan! Kalau ibu bahagia, ibu tentu menjadi semakin berdaya. 🙂


Jangan lupa bahagia!